by

KH. Miftachul Akhyar Calon Kuat Ketua MUI

-Nasional-29,336 views

JAKARTA – KH. Miftachul Akhyar tentu saja bukan nama baru di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Terutama Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur.

Beliau lahir dari tradisi dan melakukan pengabdian di NU sejak usia muda. Tak heran hingga kini dirinya mengemban puncak kepemimpinan NU, sebagai Penjabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kiai Miftah yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya direncanakan menggantikan KH. Ma’ruf Amin. Beliau adalah putra pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah KH Abdul Ghoni. Beliau lahir tahun 1953, anak kesembilan dari 13 bersaudara.

Di NU, Kiai Miftach pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020, di Gedung PBNU, Sabtu (22/9).

Menurut catatan PW LTNNU Jatim, genealogi keilmuan KH Miftachul Akhyar tidak diragukan lagi. Beliau tercatat pernah nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras, Pondok Pesantren Sidogiri (Jawa Timur), Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, dan mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al- Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

Penguasaan ilmu agama Kiai Miftachul Akhyar ini membuat kagum Syekh Masduki Lasem sehingga ia diambil menantu oleh kiai yang terhitung sebagai mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas. Kemudian Kiai Miftachul Akhyar mendirikan Pondok Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan mulai dari nol.

Awalnya dirinya hanya berniat mendiami rumah sang kakek, tetapi setelah melihat fenomena pentingnya “nilai religius” di tengah masyarakat setempat, maka mulailah beliau membuka pengajian. Ini dilakukan karena konon, kampung Kedung Tarukan terkenal sejak lama menjadi daerah yang tidak ramah pada dakwah para ulama.

Namun berkat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimilikinya, beliau berhasil mengubah kesan negatif itu sehingga kampung yang “gelap” menjadi “terang dan sejuk” seperti saat ini dalam waktu yang relatif singkat.

Kesederhanaan Kiai Miftachul Akhyar, terekam dengan jelas dalam bentuk penghormatan terhadap tamu. Kiai Miftah tidak segan-segan menuangkan wedang dan menyajikan cemilan kepada tamunya. Akhlak ini beliau dapat dari ayahandanya, KH Abdul Ghoni. Ayah KH Miftachul Akhyar merupakan karib KH M.  Usman al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada Kiai Romli di Rejoso, Jombang. Terlebih lagi saat sang ayah nyantri kepada Kiai Dahlan Ahyad Kebondalem sang pendiri MIAI dan Taswirul Afkar

Diharapkan Menjadi Ketua Umum MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan segera memiliki ketua umum baru. Hal ini mengingat lembaga independen yang mewadahi para ulama, zuama, dan cendikiawan Islam ini akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-10 yang akan dilaksanakan pada 25-28 November 2020 mendatang.
Beberapa tokoh Islam di Indonesia memiliki pandangan bahwa salah satu sosok yang layak dan mumpuni memimpin MUI kedepan adalah KH. Miftachul Akhyar.

Menurut Penasihat PWNU Kaltim DR. H. Farid Wadjdy M.Pd yang juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kaltim, sosok Kiai Miftachul Ahyar bisa menjadi salah satu figur yang bisa dipertanggungjawabkan untuk memimpin MUI kedepan.

“Ada dua kapasitas yang diperlukan untuk menjadi ketua umum, yakni kapasitas keulamaan dan kapasitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya melihat beliau memenuhi itu,” kata Farid Wadjdy.

Sehingga ia berharap dengan kapasitas kepemimpinan tersebut, MUI dapat memberi kesejukan baik untuk pemerintah, masyarakat dan umat muslim.

“Kalau memang beliau dipandang oleh seluruh peserta munas dari berbagai daerah di Indonesia mumpuni dan memiliki kapasaitas, dari sisi keulamaan, pengalaman wawasa berbangsa dan bernegara baik, maka Insyaallah inilah yang terbaik,” ujarnya.

Farid pun memberikan dukungan untuk penyelenggaraan munas ke-10 nanti. Dia pun berpesan agar dipahami betul posisi fungsi dan peran MUI oleh seluruh jajaran.
Baik tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten kota hingga kecamatan.

“Ini karena agar dalam menjalanakan roda organisasi ini, tetap berada dalam rel yang benar, menurut anggaran dasar dan anggaran rumah tangga MUI,” harap Farid. 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed