Benny Susetyo: Bersama Cipayung Plus Mari Membangun Demokrasi Bermartabat Sejalan dengan Pancasila

Nasional68 views

Jakarta – “Hendaknya Para Mahasiswa Cipayung Plus dapat menjadi Intelektual Organik , yang dapat membangun demokrasi yang bermartabat dan tidak terjebak dalam narasi narasi berkedok kebebasan yang memicu perpecahan.”

Hal ini dinyatakan Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny susetyo dalam acara Simposium Nasional Demokrasi Pancasila bertajuk “Penguatan dan Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Demokrasi Pemilu di Tahun 2024” yang dilaksanakan pada Rabu 21 Juni 2023 di Gedung Joeang 45 Jakarta dengan peserta para mahasiswa dari organisasi organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Cipayung Plus.

Dalam acara yang antara lain mengundang Langgeng Purnomo selaku Kepala Biro SDM Polda Metro Jaya, Gusnar Ismail sebagai Tenaga Ahli Bidang Politik Lemhanas, Nanang Aryanto sebagai Pamen Ahli Bidang Hukum Kodam Jaya dan Antonius Benny Susetyo, Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP itu dibahas mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia, aplikasi Pancasila dalam proses berdemokrasi dan bagaimana cara mahasiswa menghadapi dinamika berpolitik di Indonesia menjelang pesta demokrasi tahun 2024.

Dalam paparannya, Pamen Ahli bidang hukum Kodam Jaya menyatakan bahwa selalu tercatat dalam sejarah para pelaku dan inisiator perubahan serta perjuangan adalah mereka para pemuda.

“Kita bisa melihat bahwa dalam peristiwa-peristiwa penting pra kemerdekaan mereka kaum pemuda selalu ambil peranan dan tidak hanya diam saja melihat perkembangan zaman. Dalam setiap aspek dan garis waktu perjuangan Bangsa Indonesia mulai dari kebangkitan nasional, sumpah pemuda dan kemerdekaan pemuda selalu hadir, berjuang dan bersatu berusaha mewujudkan cita cita bersama.” ungkapnya.

Karenanya, di masa kini, Nanang menekankan agar para pemuda perlu merenung lagi tentang fungsi dan tujuan hidupnya sebagai bangsa Indonesia serta kontribusinya terhadap perjuangan bangsa di masa kini.

“Maka lebih jauh perlu kepekaan dari para pemuda tidak saja dalam upaya menjaga persatuan dan kesatuan negara, namun juga berupaya memberikan kontribusi positif dalam perkembangan bangsa ini.” ungkapnya.

Ia menghimbau para pemuda hendaknya dapat selalu tanggap terhadap potensi-potensi bahaya yang mengganggu keutuhan bangsa.

“Kaum muda hendaknya selalu dapat menjaga bangsa dari intervensi bangsa asing dalam upaya menjajah kembali bangsa indonesia baik secara ekonomi, ideologi, politik maupun budaya. Potensi-potensi tersebut makin gencar khususnya dalam menghadapi pemilu dimana berita bohong, narasi pemecah belah bangsa dan politik identitas makin mengemuka demi mendapat perhatian para pemilih dan meraih suara yang memuaskan.” bebernya.

Ia juga mengingatkan bahwa para politisi tidak segan melakukan cara-cara kotor, saat itulah para pemuda diharapkan bisa menjadi agent of change.

“Para pemuda harus mampu menjaga dan berpartisipasi aktif dalam pesta demokrasi ini dengan aktif melakukan sosialisasi terkait pemilu yang bersih serta selalu memantau proses pemilu agar selalu jujur, adil dan damai.” tutup Nanang.

Untuk selanjutnya, Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo dalam paparannya menyatakan bahwa demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang memiliki Roso.

“Mereka yang percaya dan yakin pada Pancasila sudah seharusnya memiliki rasa ketuhanan, yaitu rasa dimana jika kita mencintai Tuhan. Kita Juga mencintai sesama ciptaannya hal ini kemudian terejawantahkan dalam nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai musyawarah dan nilai keadilan. Sesuai dengan sila-sila dalam Pancasila.” kata Benny.

Ia menegaskan bahwa Pancasila merupakan Ideologi jalan tengah yang tidak hanya mampu menjadi alternatif antara Ideologi liberal dan komunis.

“Namun Pancasila secara nyata dapat menjadi bintang penuntun dalam meraih kehidupan masyarakat global yang merdeka dan damai. Hal ini dibuktikan dalam kesuksesan Indonesia menyelenggarakan konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 atau saat negara ini baru berusia 10 tahun.” ujarnya.

Benny menyebutkan bahwa Peristiwa monumental ini bukan saja menempatkan negara Indonesia dan Pancasila di kancah dunia namun dapat menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk meraih kemerdekaannya.

“Dengan dibuktikan oleh hal tersebut seharusnya kita percaya bahwa Indonesia tidak hanya berpotensi namun dengan sungguh sungguh dapat menjadi Pemimpin Tata Dunia Baru dengan Pancasila sebagai dasarnya.” ungkap Benny.

Lebih lanjut, Doktor Komunikasi Politik ini menyatakan Sebagai Bangsa yang berdasar kepada Pancasila kita tidak boleh melupakan sejarah tentang Pancasila dan segala dinamika yang terjadi di dalamnya.

“Pancasila lahir dari pemikiran Bung Karno dari rahim bangsa Indonesia, sejak muda Sukarno-lah yang memikirkan dan menggali Pancasila, penggalian Pancasila tersebut Merupakan buah dari proses dialog dan belajarnya dengan HOS Cokroaminoto di Surabaya, Douwes-Dekker di Bandung, serta Ki Hajar Dewantara dan beberapa tokoh lainnya dalam masa pergerakan.” bebernya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa buah pemikiran tersebut kemudian terkristalisasi ketika Sukarno mengalami masa Pembuangan di Ende. Cerita perjalanan panjang penggalian Pancasila tersebut kemudian mengalami distorsi ketika terjadi usaha deSukarnoisasi oleh orde baru yang diprakarsai Menteri Pendidikan saat itu, Nugroho Notosusanto yang berusaha mengecilkan peran Sukarno dalam upaya penggalian Pancasila dan menyatakan bahwa Muhammad Yamin-lah yang banyak berperan dalam penggalian pancasila sebagai dasar negara.

“Kebohongan ini terbuka dalam Buku AB Kusuma yang melaporkan mengenai penemuan catatan rapat penentuan dasar negara yang ditemukan di Pura Mangkunegaran Solo, dimana diketahui bahwa Sukarno merupakan satu satunya tokoh yang menjawab pertanyaan Radjiman tentang dasar negara apa yang patut di terapkan di Indonesia dengan jawaban Pancasila. Dan saat itu peran Yamin tidak lebih dari sekedar Notulensi.” kata Benny.

Fakta tersebut divalidasi dengan kesaksian Muhammad Hatta dan bahkan Muhammad Yamin sendiri dalam acara dialog yang diselenggarakan februari 1964 di UGM.

Lebih Lanjut, Dokter Ilmu Komunikasi ini menyatakan sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila , Pancasila 1 Juni 1945, 22 Juni 1945 dan 18 Agustus 1945 adalah satu tarikan napas dan keberadaan tiga momen itu tidak bisa dipisah pisahkan dan tidak dapat diganggu gugat.

“Meragukan Pancasila berarti meragukan sejarah dan mengkhianati negara dan bangsa ini. Semua unsur dari Bangsa Indonesia harus mampu menjadikan Pancasila menjadi living dan working ideologi yang diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari serta dapat menjadi gugus insting dalam berpikir dan bertindak.” tegas Benny.

Dalam acara yang diselenggarakan di Gedung Joeaang 45 itu, Benny melanjutkan paparannya dengan menyatakan bahwa dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang kian berkembang tanpa disadari membuat peran Pancasila sebagai ideologi bangsa semakin tersingkirkan dan terlupakan.

“Khususnya setelah masa reformasi, keberadaan Pancasila terasa hanya sebagai formalitas saja, hal ini diperparah dengan tereduksinya pendidikan Pancasila menjadi sekedar tempelan dari Pendidikan Kewarganegaraan, tidak terasa masyarakat Indonesia makin jauh dan asing terhadap dasar negaranya.” tandas Benny.

Benny menjelaskan bahwa hal ini dibuktikan dengan hasil Riset Setara Institute yang dilakukan kepada Para Pelajar SMA dengan hasil yang mencengangkan. Sebanyak 83,3 Persen pelajar SMA mengangggap Pancasila bukan ideologi Permanen dan bisa diganti.

“Menghadapi fenomena ini, BPIP bekerjasama dengan Kemendikbud berusaha mengembalikan Pancasila untuk kembali hidup, berkembang dan diaplikasikan kembali secara nyata dalam kehidupan bangsa.” ungkap Benny.

Dengan dicanangkannya kembali Pendidikan Pancasila sebagai mata Pelajaran pokok dari PAUD hingga perguruan tinggi, harapan-harapan masyarakat untuk Pancasila dikembalikan lagi menjadi nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari kiranya dapat terlaksana.

Dalam acara yang dihadiri 100 orang peserta ini, Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP ini menyatakan Lebih lanjut bahwa di era digital informasi dapat diperoleh dengan mudah. Banyak sekali informasi bohong dan berita negatif yang dibagikan di masyarakat.

“Tugas para mahasiswa khususnya yang tergabung dalam Cipayung Plus Untuk dapat membangun demokrasi yang bermartabat, demokrasi yang mampu melahirkan para pemimpin-pemimpin yang tidak berjibaku sekedar meraih kekuasaan namun mau dengan segala usaha bahu membahu berupaya membuat negara ini menjadi lebih baik dari masa ke masa.” kata Benny.

Sebagai generasi muda, kata Benny, para mahasiswa diharapkan dapat menjadi intelektual organik yang selalu dapat membangun dialektika sehat dan demokratis di dalam masyarakat, dan dapat selalu menjadi teladan yang mampu membimbing masyarakat agar cakap literasi, dan menjadi komunitas pemutus kata yang tidak hanya membagikan berita dan informasi namun juga mampu menyaring dan membedakan mana berita yang positif dan negatif khususnya dalam menghadapi Pemilu 2024.

Benny menutup paparannya dalam acara yang diikuti oleh Unsur Mahasiswa dan masyarakat ini dengan menyatakan “Sudah saatnya Pancasila dikembalikan menjadi moral Publik dimana masyarakat sadar dan sepakat untuk melaksanakan kehidupan berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang senantiasa berupaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *