Stafsus BPIP : Wujudkan Pemilu Ber-Pancasila dengan Menghormati Keberagaman

Nasional15 views
8 / 100

Surabaya – Dalam rangka mempererat tali Silaturahmi kebangsaan dan persaudaraan lintas iman serta dalam menghadapi pesta demokrasi dalam pemilu 2024, Forum Nasionalisme Kristen menyelenggarakan acara Silaturahmi Persaudaraan Lintas Iman untuk Indonesia yang Lebih Baik pada Sabtu 13 Januari 2024 di DBL Arena Surabaya.

Dalam kesempatan ini, Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang didapuk sebagai pembicara, menyatakan bahwa keragaman dan kemajemukan menjadi modal dasar dalam membangun bangsa.

“Kita disatukan oleh dasar negara yaitu Pancasila, maka Pancasila harus menjadi habitus bangsa dalam menuju peradaban dunia. Karenanya kita perlu mengembalikan Pancasila sebagai roh berpikir dalam pengambilan kebijakan dan keputusan hingga menjamin masa depan yang baik demi negara dan bangsa.” tegasnya.

Lanjut Benny, hal tersebut juga menciptakan spirit Indonesia tangguh dan mempercepat pemulihan krisis paska pandemi COVID-19 serta menghadapi konflik dan resesi ekonomi global yang menghancurkan banyak negara di dunia.

Benny menambahkan bahwa “Pancasila harus dikembalikan menjadi ideologi: living ideology dan working ideology. Living artinya pancasila dihidupi dari masyarakat yang bersumber dari budaya dan kearifan lokal, serta working memiliki arti Pancasila menjadi arah kebijakan dan pusat pikiran dan kerja masyarakat, pemerintah, elit politik, dan partai politik di Indonesia,” jelasnya.

Selanjutnya terkait pemilu yang akan diselenggarakan pada Februari 2024, doktor komunikasi politik tersebut menyatakan bahwa kita harus sadar bahwa Pemilu sebagai sarana demokrasi yang Ideal dan benar benar adil adalah suatu hal yang utopis.

“Di lapangan kita menghadapi kenyataan bahwa ongkos pemilu yang mahal menjadikan hal yang seharusnya menjadi perayaan dan penghormatan terhadap demokrasi ini menjadi hal yang penuh intrik, dinamika dan transaksi. Pada Akhirnya kita harus kembali pada pandangan Romo Magnis tentang Minus Mallum atau Lesser Evil yang menyatakan bahwa kita harus memilih mereka yang dosanya paling sedikit.” ungkapnya.

Karenanya, sebelum pesta demokrasi yang akan diselenggarakan pada tahun 2024 tersebut, ia mengimbau kita sudah harus mulai bisa memperhatikan para calon pemimpin dengan melihat rekam jejak, kestabilan psikologis dan kemampuan mereka dalam berdiri bersama rakyat dan pemilih.

“Kita harus bisa melihat pemimpin mana yang memiliki keutamaan yaitu mereka yang memiliki kematangan emosi, kearifan dan kebijaksanaan, menghormati keberagaman, hak asasi manusia dan peduli pada mereka yang terpinggirkan.” tegasnya.

Lebih lanjut Benny menyatakan bahwa selama ini mampu melaksanakan demokrasi dengan baik dan suksesi kepemimpinan yang relatif damai dan tanpa kekerasan, Indonesia bersama Pancasila terbukti mampu menjaga persatuan dan kesatuan ditengah tantangan ideologi lain yang mencoba merangsek.

“Karenanya kita harus dapat senantiasa menjaga kestabilan tersebut khususnya dalam momen pesta demokrasi ini. Kita harus menyadari dalam era digital ini, sifat buruk bangsa Indonesia benar-benar tergali.” tuturnya.

Menurutnya, kita sering tak sadar menjadi pribadi yang melodramatis, mudah terjebak pada romantisme dan masa keemasan masa lalu serta menjadi mereka yang bersumbu pendek.

“Mereka yang menjadi komunitas pengiya kata yang membagikan hal dan Informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu.” bebernya.

Karenanya diharapkan setiap peserta seminar kebangsaan dapat selalu menjadi agen perubahan, agen demokrasi dan agen pengedukasi dalam upaya penjaga pemilu yang berkualitas.

Lebih lanjut Doktor Komunikasi Politik itu menyatakan bahwa para pemilih potensial adalah generasi Z. Sehingga kita harus bisa mengajak dan membawa mereka untuk dapat memilih secara rasional dan tidak terjebak memilih atas dasar afeksi, pengkultusan figur tertentu, politik Identitas dan romantisme masa lalu yang digunakan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk meraih kekuasaan.

“Kita harus membuat masyarakat khususnya para gen Z sadar bahwa martabat tidak bisa direduksi dengan uang dan identitas. Menjadi bermartabat berarti mereka benar-benar bisa memilih atas dasar pikiran sehat. Dan terhormat, artinya mereka memilih berdasarkan kenyataan bahwa demokrasi tidak memberi jaminan kesejahteraan namun memberi jaminan mengenai kemanusiaan, kehormatan dan kesempatan.” bebernya.

Dalam kesempatan ini Benny juga menyatakan bahwa sebagai agen perubahan kiranya para peserta diskusi dapat memberikan contoh dan edukasi politik kepada masyarakat di sekitarnya. Para peserta seminar dapat memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana cara memilih pemimpin misalnya dengan metode analisa kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) pada setiap calon-calon pemimpin yang akan dipilih hingga benar-benar didapatkan pemimpin yang benar benar efektif dan mampu bekerja sesuai ekspektasi masyarakat.

Staff khusus dari badan yang dikepalai Profesor Yudian Wahyudi Ini kemudian menyatakan bahwa pada akhirmya berkualitas atau tidaknya suatu pemilihan umum tergantung kepada masyarakatnya.

“Jika masyarakat berkualitas maka hasil Pemilu akan berkualitas. Bonus demografi Indonesia cukup berpotensi, jika kita bisa menjaga pemilu dan pemerintahan damai maka dalam 10-15 tahun lagi maka kita bisa menjadi negara maju dan karenanya kita tidak boleh menjadi reaktif dan pesimis.” tutur dia.

“Pemilu adalah panggilan kita semua untuk melaksanakan tugas mulia mencapai cita-cita kemerdekaan, walau upaya tersebut tidak dapat diraih dengan singkat namun kita harus jaga agar tetap berlangsung dengan damai dan berkualitas.” sambungnya.

Benny menutup paparannya dalam silaturahmi yang diikuti 500 orang dari unsur lintas iman se-Jawa Timur ini dengan menyatakan “Kita tetap memilih walaupun demokrasi tidak selalu memberi jaminan kesejahteraan, namun demokrasi selalu memberikan jaminan mengenai penghargaan terhadap kemanusiaan, kehormatan dan kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *