Dari Main Bareng Kakak Jadi Jago Coding: Kisah Maulida, Anak TK yang Bisa Bikin Game 3D

Nasional78 views

Jakarta – Maulida Kesuma, bocah perempuan berusia lima tahun yang masih duduk dibangku TK sudah mahir memainkan game 3D di gadget maupun PC, tak hanya memainkan, maulida bahkan sudah bisa membuat game sendiri.

Kemampuan luar biasa ini bukan muncul tiba tiba, melainkan hasil dari bimbingan orang tuanya yang mengarahkan minat Maulida terhadap dunia game menjadi sesuatu yang produktif.

Maulida merupakan adik dari Fitria Khasanah, siswi SMP Gajah Mada Bandar Lampung yang belum lama ini mendapatkan penghargaan sebagai developer game termuda dengan karya terbanyak.

Sejak empat tahun, Maulida hampir setiap hari duduk sambil menemani kakaknya membuat game.

Meski belum lancar membaca dan menulis, Maulida menyerap banyak hal dari aktifitas sang kaka. Ia belajar lewat mendengar, melihat dan langsung mempraktekan.

Menurut Fitria, belajar coding sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan.

“Belajar coding itu seperti bermain puzzle, apalagi dengan metode drag and drop, anak anak bisa belajar dasar pemrograman dengan cara yang menyenangkan,” ujar Fitria.

Ia mencontohkan membuat desain rumah di Roblox Studio. Semua elemen asset seperti pondasi, pintu hingga isi rumah sudah di sediakan. Tinggal seret dan susun (drag and drop) saja untuk membuat sebuah game.

Dukungan Penuh Sang Ayah

Ken Setiawan, ayah Maulida dan Fitria, mengaku dirinya hanya berusaha memberikan dukungan penuh terhadap kedua putrinya.

“Dunia anak adalah dunia main, jadi bukan hanya game, semua hobi anak anak saya coba dukung sebisa mungkin, walaupun dengan segala keterbatasan,” ujar Ken.

Ia menyadari tantangan orang tua saat ini cukup berat, apalagi stigma buruk dan negatif terhadap anak anak yang gemar bermain game cukup tinggi.

Yang terpenting sebagai orang tua kita harus hadir dan membimbing. Anak tetap boleh bermain, tapi harus diarahkan, tambahnya.

Ken mengibaratkan peran orang tua seperti seorang petani yang merawat bibit,. Orang tua harus menanamkan nilai, memberi pupuk berupa kasih sayang dan bimbingan, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas berakhlak dan berprestasi.

“Dulu waktu saya kecil, usia segini mana ada HP atau laptop. Paling main kelereng, petak umpet dan layang layang. Tapi zaman anak anak kita sekarang sudah berbeda. Dunia mereka adalah dunia digital, kita harus masuk ke dunia mereka, bukan malah memaksa mereka masuk ke dunia kita seperti kita jaman dulu,” ujar Ken.

Gabungkan Coding dan Fisika

Tak hanya memperkenalkan dunia coding, Ken juga membiasakan anak anaknya belajar konsep dasar fisika sejak dini melalui aktifitas sehari hari.

Mulai dari bermain sepatu roda, skateboard, mobil mobilan, hingga bereksperimen dengan air, bola dan balok.

“Anak anak itu rasa ingin tahunya besar. Mereka sering bertanya, ini apa, gunanya apa, cara pakainya bagaimana? Kita sebagai orang tua harus bisa menjawab dengan yang sabar dan logis,” jelas Ken.

Ia percaya pengenalan dasar dasar fisika sejak dini penting agar anak anak belajar berpikir kritis dan rasional.

“Dunia ini bukan terjadi karena tukang sihir seperti di dongeng, tapi karena proses yang logis dan bisa dijelaskan. Itu yang harus kita tanamkan.” ujarnya.

Contoh sederhana yang sering ia lakukan dirumah seperti menjelaskan proses merebus air, bahwa panas dari api berpindah ke panci, lalu ke air.

Atau membuat gelembung sabun dan roket yang sederhana dari botol plastik untuk mengenalkan konsep gaya dan tekanan.

Orang Tua Tak Paksa Anak Beragama Secara Ketat

Tak Paksa Beragama secara ketat dalam artian seperti tidak mewajibkan bercadar trus menghapal alquran 30 juz, maksudnya adalah bukan melarang belajar agama, tapi bahwa dunia anak itu dunia main, biarkan anak bermain dengan teman temannya agar tak kehilangan masa bermain dengan teman seusianya.

Contohnya sholat bagi anak anak itu saya tafsirkan adalah cita cita atau afirmasi, sholat itu isinya berdoa, jadi kalau mau berdoa harus hafal bacaan dan mengetahui artinya dalam bahasa Indonesia.

“Kan banyak kita jumpai anak-anak, bahkan orang dewasa melakukan sholat 5 kali sehari hanya sebatas ritual menggugurkan kewajiban karena ancamannya jika tidak melakukan sholat akan mendapat tempat dinegara, sementara arti dalam bacaan sholat mereka itu banyak yang tidak mengetahuinya.” ujarnya.

Dengan hafal dan mengetahui arti bacaan sholat dalam bahasa indonesia bahwa sholat adalah berdoa, cita cita atau afirmasi yang harus diulang terus menerus agar bisa terwujud dalam realiatas, maka anak pun menjadi semangat rajin sholat tanpa diperintah.

Jadi oleh anak, sholat bukan hanya dianggap sebagai kewajiban, bukan pula karena takut neraka, tapi kebutuhan afirmasi atau cita cita yang harus diulang ulang dan berusaha direalisasikan dengan belajar yang tekun serta berusaha menghadirkan Tuhan dalam realitas kehidupan nyata.

Kita hadirkan sholat dalam realitas kehidupan kita, mulai takbir hingga ditutup dengan dua salam menengok kekanan dan kekiri untuk hidup damai bersama orang orang sekitar kita.

Ken juga menekankan kepada putrinya di saat bermain, bahwa orang tua hanyalah teman seperjalanan di kehidupanya, tak selamanya bisa menemani, makanya harus belajar yang rajin untuk bekal perjalanan selanjutnya ketika orang tua sudah mendahului-Nya.

Dengan pendekatan yang tepat dan suasana belajar yang menyenangkan, perpaduan coding dan fisika bisa menjadi pengalaman seru dan bermanfaat bagi anak.

“Mereka jadi semangat belajar, berpikir kritis, rasional dan lebih siap menghadapi masa depan.” tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *