Jakarta – Mengakhiri tahun 2025 dan mengawali tahun 2026, sejumlah komunitas di Jakarta khususnya Kelurahan Galur, Jakarta Pusat, yang tergabung dalam Komunitas Pencinta Catur (Kopencatur) Galur Raya dan Komunitas Penggemar Gaple (Komarga) menghelat turnamen catur dan gaple antar-wilayah dan lintas generasi yang melibatkan banyak pecatur dan pe-gaple handal. Kegiatan ini diinisiasi oleh tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda se-Galur raya serta Lembaga Kajian Strategis Bangsa dan Kedai Ide Pancasila dalam rangka menyemarakkan akhir dan awal tahun ini.
Tujuan diadakannya acara yang dinamai Turnamen Catur Persahabatan Lintas Generasi dan mengusung tema: “Hidup Jujur, Sportif Dan Harmonis Harus Dijaga Bersama, Menuju Masyarakat Pancasilais” ini adalah untuk merawat dan menjaga tradisi guyub (gotong-royong) dan kebersamaan masyarakat Galur yang telah lama diwarisi oleh para pendahulunya. Di samping juga sebagai wadah atau ajang silaturrahim antarsesama masyarakat baik tua dan muda, miskin atau kaya, semua sama sederajat sebagai anak bangsa (sama di mata hukum). Selain itu, diharapkan dengan diadakannya turnamen ini, sebagai ajang pencarian bakat terpendam dan bibit-bibit muda pecatur agar dapat dipromosikan ke ajang atau level yang lebih tinggi.
Inisiator sekaligus Ketua Panitia, Ricco mengatakan, “Maksud dan tujuan kami mengadakan kegiatan ini adalah untuk membangun semangat atau budaya positif masyarakat melalui permainan catur, agar dampaknya bisa diaktualisasikan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”
Ricco yang juga berprofesi sebagai guru olah raga SMKN 7 Jakarta lebih lanjut menambahkan, “Saya berharap, agar pemerintah mau melihat dan mendukung kegiatan-kegiatan positif seperti ini demi kemajuan generasi muda bangsa ke depan. Ya mudah-mudahan bakat-bakat terpendam mereka dapat tersalurkan secara layak dan dapat menyuplai para pecatur handal ke pentas nasional bahkan internasional.”
Dalam kesempatan yang sama, Rizmirsyah, LMK RW 03 Galur menyampaikan, “turnamen catur persahabatan dan gaple ini kami gelar bersama sebagai ajang hiburan dan silaturrahim bagi masyarakat.” Menurut Rizmirsyah, “Ini kan menjelang pergantian tahun baru, tentu akan banyak masyarakat terutama kalangan muda-mudi yang berseliweran di jalan-jalan. Tentunya kami harus berjaga-jaga dan waspada terhadap semua aktifitas masyarakat terutama di malam pergantian tahun baru yang biasanya diisi dengan hura-hura seperti bakar petasan, konvoi sepeda motor di jalan, dan lain-lain yang sifatnya lebih condong ke arah yang negatif, tawuran misalnya.”
Ia menambahkan, “Sebagai orang yang dianggap tokoh masyarakat apalagi posisi saya sebagai LMK, sudah menjadi kewajiban dan tanggungjawab saya selaku tokoh masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan atau wilayah. Ya udah pasti saya gak jalan sendiri, bersama dengan para tokoh-tokoh yang lain juga tokoh mudanya, kita bahu-membahu menjaga lingkungan atau wilayah kita agar tertib dan aman, sekaligus kita tetap bisa merayakan malam pergantian tahun baru ini dengan sederhana dan bahagia karena kita lalui dengan hangatnya kebersamaan.”
“Ya ada makan-makan dan bakar ayam panggang lah. Masa makan Kuaci sama Pop Mie doang?” kelakar Rizmirsyah.
Ditanyai mengenai hal ini, secara terpisah, Bung Ghopur, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) yang juga mewakili organisasi Kedai Ide Pancasila (KIP) menyatakan, “Mendukung setiap kegiatan positif yang dilakukan masyarakat apa pun bentuknya. Selama kegiatan itu mengandung unsur atau nilai-nilai kebersamaan, idealisme, fairness, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan serta persatuan dan kesatuan.”
“Turnamen catur persahabatan dan gaple ini kan hanya wadahnya, hanya sarananya saja. Yang penting kan atmosfir atau suasana kekeluargaannya. Sebab, kita sudah lama kehilangan rasa kekeluargaan dan gotong-royong serta toleransi sesama kita. Mudah-mudahan, melalui kegiatan ini masyarakat dapat membangun kembali semangat dan tradisi kebersamaan atau guyub-nya,” pungkasnya.
Lebih jauh ia menambahkan, “Mudah-mudahan ini bisa menjadi entry point dalam membangun dan menciptakan masyarakat yang Pancasilais sesuai yang diajarkan oleh para pendiri bangsa dan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa (jujur/positif), Kemanusiaan yang adil dan beradab (fairness), Persatuan Indonesia (guyub/gotong-royong), Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (demokratis), Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (keseimbangan/kesamarataan).”






